OPINI OMFADULI
TERNATE, — Ada satu pemandangan dalam Rapat Koordinasi Pendidikan Provinsi Maluku Utara Tahun 2026 di Hotel Bela Ternate yang menurut saya layak menjadi bahan renungan bersama.

Bukan soal siapa pejabat yang paling tinggi.
Bukan pula soal siapa yang paling berkuasa.
Tetapi soal etika dan penghormatan seorang kepala sekolah ketika mengikuti forum resmi pendidikan.
Pada pantauan awal, ketika Direktur Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Direktur SMA menyampaikan materi kepada ratusan kepala sekolah SMA, SMK dan SLB, saya melihat sejumlah oknum kepala sekolah tidak fokus mengikuti kegiatan.
Ada yang sibuk memainkan telepon genggam.
Ada pula yang berada di bagian belakang dan terlihat tertidur ketika materi sedang disampaikan.
Saya bertanya dalam hati, ini forum pendidikan atau ruang untuk beristirahat?
Padahal yang berbicara adalah pejabat dari Jakarta yang datang membawa kebijakan, program dan perhatian pemerintah pusat terhadap pendidikan di Maluku Utara.
Hanya Kelompok Kecil, Tetapi Tetap Menjadi Catatan
Dari ratusan kepala sekolah yang hadir, tentu sangat mungkin hanya sekelompok kecil oknum yang menunjukkan sikap seperti itu.
Artinya, tidak adil apabila perilaku beberapa orang kemudian digeneralisasi kepada seluruh kepala sekolah yang hadir.
Banyak kepala sekolah lainnya tetap mengikuti kegiatan dengan baik dan serius.
Namun justru karena jumlahnya hanya sebagian kecil, perilaku tersebut semakin terlihat dan menjadi perhatian.
Sebab mereka membawa nama besar satuan pendidikan masing-masing.
Tetapi Pemandangannya Berubah Saat Gubernur Hadir
Yang menarik, suasana berbeda terlihat pada agenda malam hari ketika Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos hadir langsung.
Ratusan kepala sekolah terlihat jauh lebih tertib.
Yang sebelumnya terlihat berada di belakang, bermain HP dan tidur, kini duduk di kursi masing-masing.
Mereka tampak menyimak dengan serius penyampaian Gubernur.
Suasana seolah berubah.
Tidak ada lagi pemandangan mencolok seperti sebelumnya.
Para peserta terlihat lebih tertib mengikuti jalannya acara.
Di sinilah sosok Gubernur Sherly Tjoanda Laos menjadi perhatian.
Ia dikenal publik sebagai pemimpin yang tegas dan disiplin, namun tetap dikenal dekat dan baik hati kepada masyarakat.
Kehadirannya tampaknya membuat suasana forum menjadi lebih tertib.
Saya tidak ingin mengatakan para kepala sekolah tersebut takut kepada Gubernur, karena hal itu menyangkut penilaian pribadi yang tidak bisa saya pastikan.
Tetapi perubahan suasana sebelum dan sesudah Gubernur hadir memang terlihat di lapangan.
Kalau Kepada Gubernur Bisa Tertib, Mengapa Kepada Dirjen Tidak?
Ini pertanyaan sederhana yang menurut saya patut direnungkan.
Kalau ketika Gubernur hadir para kepala sekolah bisa duduk tertib, menyimak dan mengikuti acara dengan serius, maka seharusnya sikap yang sama juga ditunjukkan ketika Dirjen maupun Direktur SMA memberikan materi.
Sebab jabatan kepala sekolah bukan sekadar jabatan administratif.
Kepala sekolah adalah teladan.
Bagaimana kita meminta siswa menghormati guru?
Bagaimana kita meminta guru disiplin?
Bagaimana kita berbicara tentang karakter peserta didik?
Kalau dalam forum resmi, masih ada pemimpin sekolah yang justru terlihat tidur dan sibuk dengan HP?
Ini bukan persoalan siapa yang lebih ditakuti.
Ini persoalan etika.
Pejabat Jakarta Datang Membawa Program untuk Sekolah
Jangan lupa, Dirjen dan Direktur SMA datang dari Jakarta bukan sekadar untuk menghadiri seremoni.
Mereka hadir membawa kebijakan pemerintah pusat, termasuk program yang berkaitan dengan revitalisasi, peningkatan mutu dan penguatan satuan pendidikan.
Maka sudah semestinya seluruh kepala sekolah memberikan perhatian dan penghormatan yang sama.
Bukan karena pejabat itu datang dari Jakarta.
Tetapi karena materi yang dibawa menyangkut masa depan sekolah dan anak-anak Maluku Utara.
Kepala Sekolah yang Merasa Disorot, Silakan Klarifikasi
Saya juga ingin menegaskan bahwa tulisan ini tidak ditujukan kepada seluruh kepala sekolah.
Dari ratusan peserta, saya meyakini hanya sebagian kecil yang menunjukkan perilaku sebagaimana terlihat dalam pantauan.
Karena itu, kepada siapa pun yang merasa keberatan dengan pemberitaan atau opini ini, silakan menggunakan hak jawab dan memberikan klarifikasi.
Media harus memberikan ruang.
Namun di sisi lain, media juga memiliki kewajiban mencatat apa yang terjadi di ruang publik.
Gubernur, Jadikan Ini Evaluasi
Saya berharap Gubernur Maluku Utara dapat menjadikan kejadian ini sebagai bahan evaluasi bersama.
Bukan untuk mempermalukan kepala sekolah.
Bukan pula untuk mencari-cari kesalahan.
Tetapi untuk memastikan bahwa disiplin dan keteladanan benar-benar menjadi budaya dalam dunia pendidikan Maluku Utara.
Gubernur yang tegas tidak harus ditakuti.
Pemimpin yang baik justru harus dihormati karena ketegasan, kedisiplinan dan sikapnya dalam menjalankan tanggung jawab.
Dan kalau kehadiran Ibu Gubernur mampu membuat seluruh peserta kembali fokus dan tertib, maka pesan sederhananya adalah:
Kedisiplinan seharusnya tidak menunggu siapa yang hadir di depan kita.
Ketika Dirjen berbicara, kita hormati.
Ketika Direktur SMA berbicara, kita hormati.
Ketika Kepala Dinas berbicara, kita hormati.
Ketika Gubernur berbicara, kita hormati.
Semuanya demi satu tujuan: pendidikan Maluku Utara yang lebih baik.
Sebab pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya nama seorang kepala sekolah.
Yang dipertaruhkan adalah wajah pendidikan Maluku Utara.
#OMFADULIPEDULI



















