JAKARTA, OMDESA.id — Semangat persaudaraan dan kontribusi generasi muda asal Sulawesi Utara di tanah rantau kembali ditegaskan melalui launching Barisan Persaudaraan Aktivis Muda Kawanua (BASUDARA AMAN) yang dirangkaikan dengan Dialog Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung di Rarampa Resto and Bar, Jakarta, Kamis (27/8/2026), mengangkat tema “Bacirita Sulut dari Jakarta Serie 1: Implementasi Falsafah Hidup Sitou Timou Tumou Tou.”

Sejumlah tokoh nasional asal Sulawesi Utara hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Jan Samuel Maringka, mantan Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen periode 2017–2024; Harsen Roy Tampomori, Direktur Eksekutif CGGS sekaligus akademisi Universitas Bung Karno; Yokpedi Lette, Tenaga Ahli DPD RI periode 2024–2029; serta Clens Tedy, aktivis nasional dan mantan Sekretaris Jenderal GMNI.
Launching BASUDARA AMAN dilakukan langsung oleh Koordinator Nasional, Combyan Lombongbitung, dan dihadiri sejumlah aktivis muda asal Sulawesi Utara yang kini berkiprah di berbagai organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan tingkat nasional.
Di antaranya berasal dari GMKI, PMII, IMM, GMNI, HMI, PMKRI, LMND dan PII yang saat ini berada dalam jajaran kepengurusan pusat maupun Pengurus Besar organisasi masing-masing.
Jan Maringka: Jaringan Persaudaraan Adalah Masa Depan
Narasumber pertama, Jan Samuel Maringka, memberikan apresiasi terhadap lahirnya forum komunikasi aktivis muda asal Sulawesi Utara di Jakarta.
Ia menilai keberadaan BASUDARA AMAN dapat menjadi ruang untuk memperkuat kualitas, profesionalisme dan jaringan persaudaraan para aktivis muda yang sedang membangun karier di Ibu Kota.
“Saya memberi apresiasi yang tinggi atas pembentukan forum komunikasi para aktivis asal Sulut yang sedang berjuang di Jakarta, karena kalian yang hadir pada hari ini akan menjadi pimpinan yang hebat di masa mendatang, baik dunia birokrasi, politik dan pengusaha. Terus tingkatkan kualitas profesional dan jaringan persaudaraan, our network our future,” ujar Jan Maringka.
Ia juga mengingatkan para aktivis muda agar tetap menjadikan falsafah hidup Sitou Timou Tumou Tou sebagai pegangan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kawan-kawan harus saling asah dan saling menjaga. Itu dapat membesarkan kalian di perantauan ini menuju masa depan yang lebih baik. Basudara AMAN, kita aman jika merasa bersaudara,” lanjutnya.
Clens Tedy: Sitou Timou Tumou Tou Harus Menjadi Spirit
Sementara itu, Clens Tedy menegaskan bahwa BASUDARA AMAN harus menjadikan falsafah Sitou Timou Tumou Tou sebagai spirit dalam membangun kehidupan bersama.
Menurutnya, nilai tersebut tidak sekadar menjadi semboyan budaya, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan, terutama bagi generasi muda Sulawesi Utara yang sedang berkiprah di Jakarta.
“Menempatkan Sitou Timou Tumou Tou sebagai falsafah dan spirit hidup adalah rumus kehidupan agar bisa maju dan besar bersama di pusat kekuasaan negara, Jakarta,” tegas Clens Tedy.
Harsen: Aktivis Muda Sulut Harus Berdampak
Akademisi Universitas Bung Karno, Harsen Roy Tampomori, juga menyampaikan apresiasi atas inisiatif pembentukan BASUDARA AMAN.
Ia mengaitkan semangat persaudaraan dalam falsafah Sitou Timou Tumou Tou dengan gagasan kebersamaan manusia sebagai teman dan sahabat bagi sesamanya.
“Apresiasi untuk teman-teman aktivis muda asal Sulut yang mau menginisiasi forum ini. Kelompok strategis para pemimpin muda nasional asal Sulut harus berdampak signifikan, baik di tingkat nasional, kemudian lokal dan global,” kata Harsen.
Ia berharap BASUDARA AMAN mampu merancang kegiatan-kegiatan strategis yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
“Saya berharap ada semangat kolaborasi untuk saling menghidupkan. Bagi yang beraktualisasi ke depannya di bidang politik, ajakan saya jadikan politik sebagai alat untuk melayani sesama, bukan saling membinasakan (humanizing politics),” lanjutnya.
Dorong Aktivis Sulut Terlibat dalam RUU Kepulauan
Tenaga Ahli DPD RI, Yokpedi Lette, mengaku bangga dapat hadir dalam launching BASUDARA AMAN bersama para aktivis muda asal Sulawesi Utara.
Ia mengatakan dirinya telah meninggalkan Sulawesi Utara selama sekitar 10 tahun. Namun, kesempatan untuk hadir dalam kegiatan tersebut menjadi momentum untuk kembali bertemu dengan generasi muda asal daerahnya.
“Jujur, saya sudah meninggalkan Sulut selama 10 tahun. Namun karena mendapat undangan untuk mengisi, saya merasa bangga bisa hadir di launching BASUDARA AMAN sekaligus Dialog Kemerdekaan ini,” jelas Yokpedi.
Ia juga mengajak para aktivis muda Sulawesi Utara untuk ikut berpartisipasi dalam pembahasan terkait RUU Kepulauan, mengingat Sulawesi Utara merupakan salah satu provinsi yang masuk dalam cakupan rancangan tersebut.

“Saya juga mengajak kawan-kawan untuk bisa berpartisipasi dalam dialog untuk bagaimana merumuskan RUU Kepulauan, karena hari ini Sulut sebagai salah satu provinsi yang masuk dalam RUU ini. DPD hari ini lagi memfokuskan pada rancangan undang-undang kepulauan,” ungkapnya.
BASUDARA AMAN Lahir dari Kesadaran Aktivis Muda
Ketua Pelaksana kegiatan, Riswan Muhammad, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut lahir dari kesadaran para aktivis muda asal Sulawesi Utara yang berada di Jakarta untuk membangun kebersamaan dan memperkuat solidaritas.
“Kakak-kakak senior yang kami banggakan, kegiatan ini secara persiapan sangat singkat. Namun kegiatan ini diinisiasi oleh kami dari aktivis muda asal Sulawesi Utara untuk menyatukan semangat bersama di tanah rantau,” ujar Riswan.
Menurutnya, BASUDARA AMAN lahir dari semangat persaudaraan dan komitmen bersama untuk ikut membangun Sulawesi Utara dari Jakarta.
Hal senada disampaikan Koordinator Nasional BASUDARA AMAN, Combyan Lombongbitung. Ia menjelaskan bahwa forum tersebut lahir dari kesadaran kolektif para aktivis Sulawesi Utara yang kini berkiprah di tingkat pimpinan pusat organisasi masing-masing.
“BASUDARA AMAN ini hadir dari pembicaraan di warung kopi dengan keresahan yang sama, yaitu kalau orang Sulawesi Utara di Jakarta masih sektarian. Maka kami coba rumuskan bagaimana agar kiranya kita dapat satukan pemikiran dan mengimplementasikan falsafah hidup Sitou Timou Tumou Tou,” ungkap Combyan.
Ia menambahkan, launching tersebut menjadi langkah awal untuk membangun ruang bersama bagi aktivis muda Sulawesi Utara dalam mengembangkan kapasitas, jaringan dan kontribusi mereka di tanah rantau.
“Mereka ini adalah tokoh-tokoh hebat di organisasi mereka masing-masing, di mana mereka adalah pimpinan-pimpinan dari organisasi mereka sewaktu di daerah. Dan kami di Jakarta ini berkumpul untuk sama-sama saling membesarkan sebagai ejawantah nilai persaudaraan yaitu Sitou Timou Tumou Tou,” tuturnya.
Ruang Intelektual Akan Terus Dikembangkan
Menutup kegiatan, moderator Rahmianti Halim, yang juga demisioner Ketua Umum Pengurus Cabang HMI Tondano periode 2021–2022, menegaskan bahwa BASUDARA AMAN tidak berhenti pada kegiatan launching dan dialog perdana.
Menurutnya, forum tersebut akan terus dikembangkan menjadi ruang intelektual, komunikasi dan persaudaraan bagi aktivis muda Sulawesi Utara di Jakarta.
Ia menekankan pentingnya semangat saling menopang agar setiap anggota dapat berkembang dan berdiri bersama untuk membesarkan satu sama lain.
Semangat tersebut diharapkan menjadi bentuk nyata implementasi falsafah hidup Sitou Timou Tumou Tou, yakni manusia hidup untuk memanusiakan dan menghidupkan sesamanya.(*)

















