OMDESA.id — Sepulang dari kunjungan ke Provinsi Yunnan, Tiongkok, Kepala Desa Toniku, M. Asgar Hi. Muin, S.Sos, membawa pulang sejumlah pelajaran penting mengenai disiplin, kerja sama, pengelolaan potensi lokal hingga strategi pembangunan yang dimulai dari desa.
Melalui sepucuk surat yang ditulis dari Yunnan, M. Asgar menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), khususnya Kepala Badan Pengembangan dan Informasi Desa dan Daerah Tertinggal, Dr. Drs. Mulyadin Malik, M.Si., CIGS, yang menurutnya telah membuka ruang pembelajaran bagi para pemangku kepentingan desa.

Menurut M. Asgar, perjalanan ke Tiongkok bukan semata-mata untuk melihat kemajuan kota, gedung tinggi, jalan raya maupun teknologi modern. Lebih dari itu, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana pembangunan sebuah bangsa ditopang oleh masyarakat dari tingkat paling bawah.
“Yang lebih penting adalah melihat manusia di balik pembangunan itu sendiri,” tulis M. Asgar dari Yunnan.
Ia menilai, salah satu pelajaran penting yang dapat diambil adalah bagaimana pembangunan pedesaan ditempatkan sebagai bagian dari kekuatan ekonomi dan sosial.
Dalam pengalaman pembangunan Tiongkok, kata dia, desa tidak hanya dipandang sebagai tempat tinggal masyarakat yang jauh dari pusat kota. Desa justru menjadi bagian dari strategi pembangunan melalui pengembangan pertanian, infrastruktur, pendidikan, industri lokal, pariwisata pedesaan hingga pemanfaatan teknologi.
Konsep Rural Revitalization atau revitalisasi pedesaan menjadi salah satu hal yang menarik untuk dipelajari.
“Jika desa maju, masyarakat kuat. Jika masyarakat kuat, negara akan semakin kuat,” tulisnya.
Pembangunan Tidak Cukup Hanya dengan Anggaran
M. Asgar juga menyoroti pentingnya membangun manusia, selain pembangunan infrastruktur.
Menurutnya, pembangunan desa tidak cukup hanya dengan membangun jalan, gedung atau fasilitas fisik. Desa juga harus memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, ekonomi produktif, kelembagaan yang kuat serta budaya kerja yang baik.
Salah satu hal yang menurutnya paling menonjol selama berada di Yunnan adalah budaya disiplin.
Disiplin, kata dia, bukan hanya persoalan datang tepat waktu, tetapi kemampuan individu maupun organisasi untuk menjalankan tanggung jawab secara konsisten.
Kemajuan tidak lahir dari pekerjaan besar yang dilakukan hanya sekali. Kemajuan justru lahir dari pekerjaan kecil yang dilakukan setiap hari dengan sungguh-sungguh.
“Anggaran yang besar tanpa disiplin dapat menghasilkan pemborosan. Sebaliknya, sumber daya yang terbatas tetapi dikelola dengan disiplin dan kerja sama dapat menghasilkan perubahan besar,” tulisnya.
Kerja Sama Pemerintah, Masyarakat dan Dunia Usaha
Pelajaran lain yang dibawa pulang adalah pentingnya membangun kerja sama.
Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, lembaga pendidikan dan komunitas dinilai harus bergerak dalam satu arah untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.
Pemerintah berperan melalui kebijakan dan pembangunan infrastruktur. Masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan, sementara dunia usaha dapat membuka ruang ekonomi dan menciptakan lapangan pekerjaan.
Menurut M. Asgar, desa juga perlu membangun kebiasaan sederhana, seperti menghargai waktu, menaati aturan, bekerja sungguh-sungguh serta menyelesaikan pekerjaan yang telah dimulai.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa Indonesia tidak harus meniru Tiongkok secara keseluruhan.
“Kita tidak harus menjadi China. Kita tidak harus meniru semuanya. Tetapi kita dapat belajar dari pengalaman bangsa lain,” tulisnya.
Nilai-nilai positif seperti disiplin, kerja keras, perencanaan, konsistensi, pemanfaatan teknologi, kerja sama dan keberanian membangun dari akar rumput dinilai relevan untuk diterapkan sesuai kondisi Indonesia.
Desa Maluku Utara Dinilai Memiliki Potensi Besar
Khusus bagi desa-desa di Indonesia, terutama di Maluku Utara, M. Asgar mengajak pemerintah desa dan masyarakat tidak merasa bahwa desa terlalu kecil untuk berbicara mengenai kemajuan.
Menurutnya, desa memiliki kekuatan yang besar berupa tanah, laut, budaya, pemuda, pengetahuan lokal dan masyarakat.
Jika seluruh potensi tersebut dikelola secara bersama-sama dengan disiplin dan perencanaan yang baik, desa dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Karena itu, pembangunan desa harus diarahkan pada pengelolaan potensi lokal, pemberdayaan masyarakat, pengembangan ekonomi, pelestarian budaya, perlindungan lingkungan serta peningkatan kualitas generasi muda.
Ia juga menilai BUMDes harus dapat dikelola secara profesional sehingga benar-benar menjadi salah satu instrumen penggerak ekonomi masyarakat desa.
Belajar dari Yunnan untuk Membangun Kampung Halaman
M. Asgar mengatakan, perjalanan ke Yunnan pada akhirnya bukan hanya cerita tentang kemajuan Tiongkok. Perjalanan tersebut menjadi bahan refleksi tentang apa yang dapat dipelajari untuk pembangunan Indonesia.
Menurutnya, revitalisasi pedesaan yang mencakup pengembangan industri, talenta atau sumber daya manusia, budaya, ekologi dan organisasi menjadi hal yang relevan untuk direnungkan dalam pembangunan desa di Indonesia.
Desa, kata dia, tidak boleh hanya dibangun secara fisik. Desa harus memiliki ekonomi produktif, sumber daya manusia berkualitas, budaya lokal yang hidup, lingkungan yang terjaga, pemerintahan desa yang efektif serta masyarakat yang mampu bekerja sama.
Indonesia sendiri memiliki ribuan desa dengan kekayaan alam dan budaya yang besar, mulai dari pertanian, perkebunan, kelautan hingga potensi pariwisata.
“Pertanyaannya bukan apakah desa kita memiliki potensi. Pertanyaannya adalah apakah kita mampu mengelola potensi itu secara disiplin, terencana, dan bersama-sama?” tulisnya.
Dari Yunnan, M. Asgar mengaku membawa pulang satu kesadaran bahwa kemajuan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Kemajuan, menurutnya, bisa dimulai dari desa.
Dari petani yang bekerja dengan tekun, anak muda yang mau belajar, pemerintah desa yang memiliki visi, masyarakat yang menjaga lingkungan hingga BUMDes yang dikelola secara profesional.
Ia berharap pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai cerita perjalanan, tetapi dapat menjadi pengetahuan yang dibawa pulang dan diterapkan untuk membangun kampung halaman.
“Ukuran keberhasilan perjalanan bukanlah seberapa banyak tempat yang kita kunjungi. Ukuran keberhasilan perjalanan adalah seberapa banyak ilmu yang kita bawa pulang dan seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat,” tulis M. Asgar.
Dari Yunnan untuk Indonesia, pesan yang dibawanya sederhana: pembangunan dapat dimulai dari desa, dari kampung, dari masyarakat dan dari setiap individu yang mau mengambil bagian dalam perubahan.
OMDESA.id_ Suara Desa Untuk Indonesia



















